Didirikan pertama kali pada era Kesultanan Aceh (diduga tahun 1612 M pada masa Sultan Iskandar Muda). Masjid ini berfungsi sebagai rumah ibadah, benteng pertahanan militer, dan pusat teologi.
Saat agresi militer Belanda pertama (1873), kompleks masjid dibakar oleh Belanda, memicu kemarahan rakyat yang berujung pada tewasnya Jenderal Kohler. Belanda membangunnya kembali pada 1879 dengan gaya eklektik Indo-Saracen. Saat tsunami 2004, masjid ini tetap berdiri kokoh tanpa kerusakan struktural berarti, menyelamatkan ribuan jiwa.
Sejarah

* Segala informasi kemungkinan ada yang salah atau kurang. Jika Anda ingin berkolaborasi untuk melengkapi atau memperbaiki informasi, silakan hubungi kontak yang tersedia.



