Perang Aceh meletus pada 26 Maret 1873 ditandai dengan agresi militer pertama Belanda di bawah Jenderal Kohler, yang tewas ditembak oleh pejuang gerilya Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Kejadian ini memaksa pasukan kolonial mundur.
Belanda kembali dengan agresi kedua di bawah Jenderal J. van Swieten yang berhasil menduduki istana sultan, tetapi perang tidak berakhir. Para ulama dan hulubalang memindahkan basis ke pedalaman untuk perang gerilya yang dipicu secara ideologis oleh pembacaan manuskrip Hikayat Prang Sabi. Perlawanan ini menguras kas Belanda selama lebih dari empat dekade.

* Segala informasi kemungkinan ada yang salah atau kurang. Jika Anda ingin berkolaborasi untuk melengkapi atau memperbaiki informasi, silakan hubungi kontak yang tersedia.



