Lonceng Cakra Donya adalah salah satu benda cagar budaya bersejarah paling berharga yang kini tersimpan dengan rapi di dalam kompleks Museum Negeri Aceh, Kota Banda Aceh. Lonceng besi perunggu raksasa yang memiliki tinggi sekitar 125 sentimeter, diameter 75 sentimeter, dan berat mencapai ratusan kilogram ini merupakan bukti otentik adanya hubungan diplomatik dan perdagangan yang sangat erat antara Kesultanan Samudra Pasai di utara Sumatera dengan Kekaisaran Tiongkok dari Dinasti Ming pada abad pertengahan.
Menurut catatan sejarah, lonceng Cakra Donya dibuat di Tiongkok dan dibawa langsung ke pulau Sumatera pada tahun 1414 Masehi oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He), panglima armada laut muslim raksasa utusan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Lonceng perunggu megah ini diserahkan secara resmi oleh Laksamana Cheng Ho kepada Sultan Samudra Pasai saat kapalnya berlabuh di perairan Lhokseumawe, sebagai hadiah persahabatan (*gift of friendship*) dari Kaisar Tiongkok guna mengukuhkan aliansi perdagangan maritim bebas di kawasan Selat Malaka.
Nama 'Cakra Donya' memiliki makna filosofis yang sangat megah, di mana 'Cakra' berarti roda atau poros pelindung, dan 'Donya' berarti dunia. Bagian luar lonceng dihiasi dengan relief ukiran ornamen dekoratif berbentuk mahkota bunga dan tulisan aksara Tionghoa kuno serta tulisan beraksara Arab yang menunjukkan perpaduan harmonis kebudayaan timur. Ketika Kerajaan Samudra Pasai bergabung di bawah kedaulatan Kesultanan Aceh Darussalam bersatu pada awal abad ke-16, Sultan Ali Mughayat Syah memindahkan lonceng bersejarah ini ke istana Darud Donya di Banda Aceh. Lonceng ini kemudian ditempatkan di atas geladak kapal perang utama kesultanan untuk digunakan sebagai penanda alarm atau pemberi isyarat perang saat armada maritim Aceh berlayar melawan Portugis.
Referensi & Sumber Sejarah: 1. Djajadiningrat, R.A. (1911). *Critisch Overzicht van de Geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh*. Batavia: Landsdrukkerij. 2. Groeneveldt, W.P. (1880). *Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources*. Batavia: W. Bruining. 3. Said, Mohammad. (1981). *Aceh Sepanjang Abad (Jilid I)*. Medan: Percetakan Waspada. 4. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Wilayah Aceh dan Sumatera Utara. (2019). *Dokumentasi Sejarah Lonceng Cakra Donya*.

* Segala informasi kemungkinan ada yang salah atau kurang. Jika Anda ingin berkolaborasi untuk melengkapi atau memperbaiki informasi, silakan hubungi kontak yang tersedia.


