Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu pilar penopang perekonomian daerah pertanian di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah pantai timur-utara serta pantai barat-selatan Aceh. Terbentang di atas lahan seluas ratusan ribu hektar, industri kelapa sawit rakyat maupun perkebunan swasta menghasilkan jutaan ton minyak sawit mentah (*Crude Palm Oil*/CPO) setiap tahunnya. Sawit bertindak sebagai penyedia lapangan kerja utama bagi ratusan ribu keluarga petani pedesaan Aceh dan menjadi komoditas penyumbang nilai produk domestik regional bruto (PDRB) sektor perkebunan terbesar bagi provinsi ini.
Meskipun memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar, pengembangan industri sawit di Aceh kini bergeser menuju prinsip-prinsip berkelanjutan (*sustainable palm oil*). Pemerintah daerah bersinergi dengan lembaga swadaya masyarakat global untuk menerapkan sertifikasi *Indonesian Sustainable Palm Oil* (ISPO) dan *Roundtable on Sustainable Palm Oil* (RSPO). Tujuannya adalah memastikan perluasan lahan sawit tidak merusak habitat hutan lindung primer di kawasan Ekosistem Leuser (*zero deforestation policy*) serta memitigasi konflik sosial lahan.
Hilirisasi industri sawit terus digalakkan dengan mendorong investasi pembangunan pabrik penyulingan minyak goreng lokal, oleokimia, serta industri pengolahan limbah sawit menjadi energi terbarukan (*biomassa* dan *biogas*). Dengan hilirisasi ini, Aceh tidak lagi mengekspor bahan mentah berupa CPO kasar, melainkan produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang mampu mendongkrak pendapatan daerah secara mandiri dan berkelanjutan.
Lokasi & Alamat: Sentra perkebunan di Aceh Timur, Nagan Raya, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, dan Aceh Barat, Provinsi Aceh, Indonesia. Peta Google
Referensi & Sumber Informasi: 1. Dinas Perkebunan Provinsi Aceh. (2022). *Katalog Data Statistik Perkebunan sawit dan Komoditas Unggulan Daerah*. 2. Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan Aceh (FKSBA). (2021). *Peta Jalan Kelapa Sawit Berkelanjutan Bebas Deforestasi di Bumi Aceh*. 3. Kajian Nilai Tambah Hilirisasi CPO Universitas Syiah Kuala. (2020).

* Segala informasi kemungkinan ada yang salah atau kurang. Jika Anda ingin berkolaborasi untuk melengkapi atau memperbaiki informasi, silakan hubungi kontak yang tersedia.
