Kenduri Blang (bahasa Aceh: *Khanduri Blang*) adalah upacara adat syukuran dan doa bersama yang digelar secara kolektif oleh masyarakat agraris Aceh sebelum memulai musim turun ke sawah (*musim keumeugo*). Tradisi turun-temurun ini diselenggarakan langsung di tengah area persawahan (*blang*) dengan dihadiri oleh seluruh petani desa, tokoh adat (*Keujruen Blang*), serta pemuka agama (*Imum Mukim*). Upacara ini bertujuan untuk memohon rida Allah agar tanaman padi terhindar dari hama penyakit, subur, serta menghasilkan panen yang melimpah.
Prosesi Kenduri Blang diawali dengan pembersihan saluran irigasi sawah secara gotong royong (*mupakat blang*). Puncak acara diisi dengan zikir bersama, selawat nabi, pembacaan doa keselamatan, serta penyembelihan hewan ternak (kerbau atau kambing) secara patungan oleh para petani. Daging hewan tersebut dimasak bersama di tepi sawah dalam kuali besar menggunakan bumbu kuah beulangong khas Aceh yang kaya rempah, lalu dinikmati bersama-sama dalam suasana kenduri makan bersama di atas daun pisang.
Selain bermakna spiritual keagamaan, Kenduri Blang memiliki fungsi sosial yang sangat krusial sebagai media musyawarah mufakat demi menentukan jadwal tanam serempak, jenis padi yang akan ditanam, serta pembagian jatah air irigasi secara adil. Tradisi ini mempererat rasa kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas persaudaraan (*ukhuwah*) antar-petani di pedesaan Aceh.
Lokasi & Alamat: Kawasan pertanian padi di Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia. Peta Google
Referensi & Sumber Informasi: 1. Majelis Adat Aceh (MAA). (2020). *Pedoman Pelaksanaan Adat Khanduri Blang dalam Masyarakat Pertanian Aceh*. 2. Snouck Hurgronje, C. (1893). *De Atjehers*. Batavia: Landsdrukkerij. 3. Jurnal Kajian Sosial Budaya dan Ketahanan Pangan Masyarakat Tani Universitas Syiah Kuala. (2021).

* Segala informasi kemungkinan ada yang salah atau kurang. Jika Anda ingin berkolaborasi untuk melengkapi atau memperbaiki informasi, silakan hubungi kontak yang tersedia.


